[Opini] Kokoh Dalam Kesandiwaraan

Civitas Menulis Opini
Enaldi, Wasekjen Ikatan Mahasiswa Administrasi Bisnis Indonesia (IMABI). (Foto: Ist)

PROFESI-UNM.COM – Kampus yang berpelat merah serta predikat satuan kerja (satker) terbaik se Indonesia dan  peringkat 20 Klasterisasi Perguruan Tinggi Non-Vokasi tahun 2018.  Sebuah prestasi yang patut kita acungkan jempol.

Sebagai pembuka  ku ingin sampaikan salam sejahtera untuk kawan baruku meskipun kesejahteraan itu masih milik segelintir orang.  Selamat datang kawan-kawan mahasiswa baru tahun 2018 di Universitas terakreditasi (A).  Anda adalah orang-orang hebat, orang-orang terseleksi dan tentunya orang berkantong tebal.

Sebuah kebahagiaan yang terselimuti oleh duka.  Bahagia karena akan menjadi titik awal dirimu untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan mudah-mudahan menjadi manusia yang bisa memanusiakan. Kemudian duka yang ter selimuti  untuk segenap mahasiswa yang harus besusah payah dengan keras untuk mengumpulkan modal demi mencicipi dan mengenyam yang namanya pendidikan.  Padahal semagat UUD 1945 mengamanatkan pendidikan itu adalah Hak segenap anak bangsa Indonesia dan sekaligus menjadi kewajiban Negara (Pemerintah).

Universitas Negeri Mahal (Makassar) Menarah Phinisi dengan interior mewah  memanjakan diri untuk sang nakhoda. Phinisi dengan kokoh dan gagah berdiri yang sekarang ini juga menjadi ikon kota Makassar.  Kampus Negeri yang bernuansa swasta.

Phinisi dengan tingginya juga seakan menandakan bahwa hanya segelintir orang yang mampu menjangkaunya. Artinya keterjangkuanya begitu sulit diakses oleh masyarakat miskin,  duafa dan lemah. Namun untuk menjawabnya, katanya ada program beasiswa untuk yang kurang mampu (Bidik Misi) lain dibidik lain to nakenah.  Hemat kata,  program ini hanya untuk orang miskin yang berprestasi. Nah kalau yang sudah miskin dan  sudah tidak berprestasi. Apakah sudah tidak berhak lagi  bermahasiswa dikampus ini. Bantu saya untuk menjawabnya.

Guyonan Sujiwo tedjo dalam cuitannya. ‘’gimana nga terjadi kesenjangan pendidikan.  Universitas bikin tes masuk.  Saring yang pintar-pintar dan kemudian mereka dididik. Tambah menjelitlah meninggalkan yang goblok. Mestinya universitas bikin tes agar yang pintar-pintar jangan diterima. Suruh mereka belajar sendiri. Yang goblok-goblok dididik’’. Sebagai kesimpulan goblok sekalipun harus berkantong tebal untuk menempuh pendidikan pendidikan di perguruan tinggi. Kira-kira seperti itu.

Dengan predikat (A) ,  UNM rasanya perlu melakukan pembenahan secara cepat dan tepat sasaran. Misalnya dalam aspek sarana dan prasarana.  Tidak elok rasanya ketika predikat (A) tersebut tidak selaras dengan kondisi realitas kampus itu sendiri.  Namun ketidak elokan tersebut memang nyata adanya. Keterbatasan ruang kuliah, ruangan yang over kapasitas, fasilitas pendukung dalam proses perkuliahan, sekretariat kelembagaan yang di bawah standar  serta rasio dosen dan mahasiswa adalah segelintir ketidak sesuaian jika disandingkan  dengan predikat nya sendiri. Bisa jadi  keresahan pribadi penulis ini sudah menjadi keresahan bersama. Harapan kita,  keresahan-keresahan klasik ini  jangan lagi kita wariskan kegenerasi selanjutnya.

Sekali lagi ku ucapkan selamat datang kawan-kawan baruku  selamat datang dikampus  orange.  Semangat baru, nuansa baru  dan mudah-mudahan akan membawa perubahan baru yang positif untuk kampus kita tercinta.  Selamat berdialektika dengan riuh piuh romantisme bermahasiswa.


*Penulis: Enaldi, Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial UNM Angkatan 2016  sekaligus  Wasekjen Ikatan Mahasiswa Administrasi Bisnis Indonesia (IMABI)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *