Soe Hok Gie, Aktivis Pers Mahasiswa yang Kritis

DJMTD
Soe Hok Gie. (Foto: Triva.id)

PROFESI-UNM.COM – Pers Mahasiswa adalah entitas penerbitan yang beroperasi di perguruan tinggi dan diluar perguruan tinggi yang dikelola oleh mahasiswa. Selama ini Pers mahasiswa dianggap sebagai organisasi pers yang paling ideal karena tidak berorientasi pada kepentingan ekonomi melainkan pada idealisme mahasiswa.

Adalah Soe Hok Gie, seorang  pemikir cum wartawan. Soe Hoe Gie merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonensia (UI)  angkatan tahun 1962, ia seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Bagi Gie menulis adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu sebagai Pers Mahasiswa tak jarang Gie secara frontal melontarkan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa pada masa itu. Baginya seorang intelektual harus mampu menyuarakan kebaikan bersama.

Dalam pandangan umum pers mahasiswa kerap dicap sebagai ‘Pembrontak’. Yah bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis.

Gie dalam catatannya menulis, seorang intektual tidaklah mengejar kuasa atau kepopuleran. Seorang intelektual adalah mereka yang ingin mencanangkan kebenaran.

Apa yang harus kamu lakukan jika ingin bergabung dengan pers mahasiswa? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus, ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.

Menulis merupakan laku moral, menulis adalah usaha menyampaikan kebenaran. Gie memiliki tulisan yang berkualitas dan selalu mencerahkan, dirinya tidak menulis hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Ia selalu menulis hal-hal kecil disekitarnya tapi memiliki dampak yang besar, dalam banyak hal Gie adalah pemikir sadis demi perubahan.

Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras.


*Wahyu Riansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *