Menilik Arus Sejarah Pers Mahasiswa

DJMTD
Pers Mahasiswa. (Foto: Int)

PROFESI-UNM.COM – Pers Mahasiswa telah menunjukkan eksistensinya sebelum universitas di Indonesia ada. Segelintir pemuda pribumi yang berkuliah di Belanda dan berhimpun dalam organisasi Indische Vereniging telah melakukan aktivitas jurnalistik, mereka menyerukan persatuan dengan dasar nasionalisme melalui majalah Hindia Putra.

Mereka adalah pemuda yang terkena dampak politik etis, organisasi Indische Vereniging sendiri berdiri pada tahun 1908 yang diprakarsai oleh Soetan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto Soeroto. Tujuan awal organisasi ini adalah mengadakan pesta dansa dan pidato-pidato.

Indische Vereniging mulai berubah haluan tatkala Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) bergabung dalam organisasi ini pada tahun 1913. Ia mulai memikirkan masa depan indonesia dan betapa besar peran organisasi tersebut bagi bangsa indonesia.

Semenjak itu kemudian mereka menggagas majalah yang diberi nama ‘Hindia Poetra’. Awal terbit isi majalah Hindia Putra sama sekali tidak memuat tulisan bernada politik.

Organisasi ini terus mengalami metamorfosis, pada September saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Organisasi ini konsisten menerbitkan majalah Hindia Poetra, dibawah asuhan Mohammad Hatta majalah ini mulai menjadi sarana untuk menyebarkan ide-ide antikolonial, Hatta menyumbangkan tulisan kritik mengenai praktik sewa tanah industri gula Hindia Belanda yang merugikan petani.

Tahun 1923 Indonesische Vereeniging kembali memilih anggota baru, kali ini Iwa Koesoemasoemantri terpilih jadi ketua. Indonesische mulai menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerjasama dengan Belanda.

Indonesische Vereeniging kembali berganti nama dibawah kepimimpinan Soekiman Wirjosandjojo, nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta menjadi Ketua PI terlama yaitu sejak awal tahun 1926 hingga 1930, sebelumnya setiap ketua hanya menjabat selama setahun. Perhimpunan Indonesia kemudian menggalakkan secara terencana propaganda tentang Perhimpunan Indonesia ke luar Negeri Belanda.

Majalah Hindia Putra juga mengalami perubahan nama dibawah pimpinan Hatta menjadi Indonesia Merdeka. Tetapi karena tegasnya sikap rezim kolonialisme Belanda yang masih tegak berdiri maka majalah Indonesia Merdeka saat itu disebarkan secara diam-diam. terlebih ketika belanda membentuk divisi khusus dalam kepolisian dengan nama Politiek Inlichtingen Dienst yang bertugas melakukan investigasi terkait kejahatan politik.

Semangat menyebarkan rasa merdeka yang disemayangkan dalam dua tradisi sekaligus, pemberitaan dan advokasi terus dilakukan oleh Hatta dan kawan-kawannya di PI. Jurnalisme Advokasi ini juga berkembang ditanah air setelah beberapa anggota PI menyelesaikan studinya di Belanda dan kembali ke Indonesia.

Dalam catatan sejarah, pers mahasiswa memiliki peran sentral dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pasca kemerdekaan pun mereka tetap eksis mewartakan ketimpangan yang terjadi di tanah air ini, tidak sedikit aktivis pers mahasiswa yang dipenjara akibat mengkritik rezim Soeharto yang dinilai otoriter.

Namun dibawah kepiminpinan B.J Habibie, pers mahasiswa dipaksa kembali ke kampus. Habibie mengeluarkan kebijakan terkait kebebasan pers, karena itu pers mahasiswa kalah bersaing dengan pers arus utama yang semakin berkembang.

Di kampus Pers Mahasiswa dijuluki sebagai ‘biang onar’. Sebab laporan jurnalistiknya yang berbahaya dan kerap dianggap berpotensi mengganggu stabilitas kampus.

Pers Mahasiswa hadir sebagai pembawa sekaligus pemantik wacana tandingan di kalangan mahasiswa. Sebuah orientasi yang tentunya berdampak lebih jauh, dengan pemahaman seperti ini maka respon berbagai pihak atas pemberitaan pers mahasiswa dan label biang onar yang tersemat didalamnya harus ditanggapi secara bijak.


*Reporter: Wahyu Riansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *