Dipersulit Kaprodi, Filtra Terancam DO

Fakultas Ekonomi
Filtra Absri, mahasiswa angkatan 2011 Program Studi (Prodi) Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM). (Foto; Ist)

PROFESI-UNM.COM – Nasib Filtra Absri, mahasiswa angkatan 2011 Program Studi (Prodi) Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM) kini berada di ujung tanduk. Ia terancam drop out (DO) pada akhir Agustus nanti karena tidak dapat menyelesaikan studinya selama tujuh tahun.

Mahasiswa asal Pinrang ini tak dapat menyelesaikan studinya karena dosen pembimbing II-nya, Sitti Hajerah Hasyim tidak mau menandatangani proposal penelitiannya. Padahal Hariany Idris selaku PA I Itta’ telah menyetujui dan menandatangani usulan judul penelitian.

Selama kurang lebih tiga tahun, Itta’ hanya mengurus proposal penelitian. Sejak Desember 2015, proposal penelitian yang berjudul “Studi Komparasi Prestasi Belajar antara Mahasiswa Aktif Organisasi dan Mahasiswa Tidak Aktif Organisasi pada Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar” tersebut hingga sekarang belum juga ditandatangani oleh Sitti Hajerah Hasyim.

Menurut pengakuannya, dosen tersebut tidak ingin menandatangani proposal penelitiannya karena adanya masalah pribadi yang dikaitkan dengan akademik. Itta’ pernah melakukan aksi demonstrasi kepada Kaprodi terkait kebijakan intervensi nilai mahasiswa dua tahun lalu.

“Awalnya dia tidak suka dengan saya karena pernahka aksi waktu tahun 2016. Tapi sudah meka datangi untuk minta maaf. Dan dia bilang kalau saya bisaji sarjana di UNM yang penting saya ikuti semua kebijakannya termasuk antri saat konsultasi dengannya,” kata Itta’.

Namun eks Sekretaris Umum Himpunan Pendidikan Akuntansi ini sesali, selama 12 kali konsultasi, ia tak pernah dilayani dengan baik, celakanya, Itta’ tiba-tiba disuruh mengganti judul penelitiannya saat konsultasi yang ke-13 pada 7 Agustus lalu.

Ia pun merasa kebingungan karena waktu yang diberikan kepadanya tidak cukup lagi satu bulan. Hingga konsultasi terakhirnya pada 10 Agustus, ia meminta saran tentang apa yang harus ia lakukan.

Akan tetapi, Itta mendapatkan jawaban buntu yang membuatnya kecewa. Ia disuruh untuk berpikir sendiri.

Ia pun telah mempertanyakan solusi masalahnya ke Dekan FE dan PR I UNM. Tapi solusi yang ia dapatkan hanya disuruh mengurus surat pindah kuliah.

“Saya tetap berusaha untuk bisa ketemu dengan pak Rektor hingga akhir bulan Agustus. Karena pak Rektor adalah pintu terakhir saya minta tolong terkait pelayanan akademik yang saya alami,” ucap Itta’.

Nahas, perjuangan Itta’ selama tujuh tahun berakhir nestapa. Padahal dalam urusan akademik, ia terbilang cukup baik. IPKnya mencapai 3,58 dari 59 mata kuliah yang telah ia program termasuk PPL dan KKN. (*)


*Reporter: Wahyudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *