[Opini] Hari Raya Muslim Vs Hari Raya Mahasiswa

Civitas Menulis Opini

PROFESI-UNM.COM -Hari raya Idhul Adha adalah salah satu dari hari hari besar umat muslim didunia tak terkecuali Indonesia.Hari Raya Idhul Adha jatuh pada  10 Dzulhijjah 1439 Hijriyah atau tanggal 22 Agustus 2018. Hari Raya ini merupakan dimana Jamaah haji wuquf di Arafah  sambil membaca  kalimat talbiyah sehingga hari raya ini disebut pula Hari Raya Haji.

Secara historis Hari Raya Idul Adha  tidak terlepas dari cerita ketaqwaan Nabi Ibrahim A.S dan anaknya Nabi Ismail A.S, Kepada Tuhannya (Allah Stw). Diceritakan bahwa demi ketaqwaan Nabi Ibrahim A.S ikhlas menyembelih anaknya yang kemudian karena kuasa Ilahi maka yang disembelih bukanlah anaknya melainkan diganti dengan domba, peristiwa tersebutlah yang menjadi asal muasal Hari Raya Idhul Adha yang identik dengan kurban atau pengorbanan

Bukan hanya muslim yang punya hari hari besar dan hari raya mahasiswapun punya , mahasiswa tak mau kalah namanya sebut saja Hari Raya Kuliah Perdana,hari raya ini hampir seperti Hari Raya   Idul Fitri  umat muslim,dimana umat muslim  diberi hadiah  kefitrian setelah berpuasa dan ibadah lain  selama satu bulan lamanya, bedanya  Hari Raya Kuliah Perdana ini Mahasiswa kembali kuliah setelah melewati libur panjang di kampung  dengan semester barunya dan hadiahnya adalah adik adik baru yang baru keluar dari SMA

Bagaimana Jika Dua Hari Raya itu Bersinggungan ?

Mahasiswa Universitas Negeri Makassar  mengalami dilema ini  pasalnya Hari Raya Kuliah Perdana hanya selisih 2 hari dengan Hari Raya  Idul Adha. Bagi Mahasiswa yang kampung halamannya dekat dengan Kota Makassar hal tersebut bukanlah masalah  tapi apa kabar dengan mahasiswa yang daerah asalnya harus ditempuh tidak dengan waktu yang singkat ? atau bagaimana dengan Mahasiswa yang dananya pas pasan untuk bola balik  Makassar Kampung.

Ditambah lagi Hari Raya Kuliah Perdana tidak diberi kelonggaran meski itu atas nama Hari Raya Idhul Adha. Katanya tidak ada toleransi karena dikalender akademik sudah ditetapkan pada tanggal  20 Agustus 2018 kuliah perdana dan harus dipatuhi. Saya sepakat bahwa aturan harus dipatuhi namun yang membuat heran apakah pembuatan kalender akademik tidak memperhatikan kalender nasional bahwa disana ada Hari Raya Idul Adha? karena jika benar mereka memperhatikan kalender nasional sudah barang tentu mereka memikirkan waktu kuliah perdana yang tidak bersinggungan dengan hari besar lainnya,atau jika mereka telahmenetapkan hal demikian maka dirasa itu kurang efektif

Para pembuat kebijakan mungkin menganggap hal ini sepeleh “ kan lebaran  bisa di Makassar saja,yang pentingkan lebaran “ sayangnya lebaran tidak seseremonial itu. Sudah jadi rahasia umum  bahwa lebaran tidaklah afdol tanpa kehadiran keluarga dengan silaturahminya apalagi dengan  hidangan yang tak jarang ditemui dihari hari biasa.

Kemudian pendapat lain muncul dari pasukan pulang kampung ,katanya “pulang kampung saja toh hanya alfa satu kali dan masih ada sisa nyawa 3 kali”, sayangnya tak semua dosen berprinsip seperti itu ada saja Dosen yang sudah sensitif hanya dengan satu alfa,satu alfa bisa menyebabkan nilai yang kurang baik seperti C bahkan ada pula jika momen moment tertentu  tidak hadir justru mendapat nilai Error ( kecuali final dan UTS ) padahal kami selalu toleransi jika mereka tidak sempat menjalankan tanggung jawabnya dikelas dengan alasan tertentu.

Jika begitu kami harus bagaimana ?

Apakah jika kuliah  perdana diundur akan menyebabkan UNM rugi Miliyaran?

Apakah jika kuliah perdana diundur akan menyebabkan kampus akan kehilangan akreditasi A nya ?

apakah Hari Raya Idhul  Adha atau Hari Raya Kurban kurban harus berarti mengorbankan Keluarga atau kuliah?

Jikapun betul kami harus berkorban maka kami butuh jaminan bahwa saat kami ikut kuliah perdana dosen masuk untuk menjalankan tanggung jawabnya.Kami sepakat bahwa mahasiswa yang tidak disiplin diberi nilai C atau Error asalkan dosen yang tidak profesional gajinya dipotong atau tidak digaji sama sekali agar adil bagi semua pihak  dan pengorbanan kami tidak sia sia.


*Penulis adalah Besse Mapparimeng A.Lauce, Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), angkatan 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *