Berita Terbaru!! :

Berita Terbaru

Hari ini, Enam Calon Dekan FIP Akan Paparkan Visi Misi

Admin by Persma UNM on Wednesday, 1 October 2014 | 07:01

Baliho calon dekan FIP terpajang di gedung fakultas.
(Kasdar-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Enam calon dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) yakni Dr. Abdullah Sinring, M.Pd, Prof. Dr. H. Alimuddin Mahmud, M.Pd, Dr. H. Syamsul Bakhri Gaffar, M.Si, Dr. Sulaiman Samad, M.Pd dan Dr. Rohana akan paparkan visi misi hari ini, Rabu (1/10) di Lantai 3 Ruang Senat Gedung Fakultas FIP UNM.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Panitia, Ali Latif Amri. Ia mengatakan, pemaparan visi misi itu akan melibatkan semua kalangan civitas FIP UNM.
"Mulai dari pegawai, dosen hingga mahasiswa, tapi setidaknya hanya perwakilan saja karena waktu yang terbatas. Semua harus dilibatkan supaya bisa diketahui apa saja janji yang mereka katakan nanti," bebernya.

Disamping itu ia berharap civitas yang datang nantinya bisa menyimak informasi dari keenam calon tersebut dengan baik. "Silahkan lihat dan saksikan dengan baik supaya bisa ditagih nanti janji-janjinya," harapnya.

Setelah pemaparan visi misi calo dekan, selanjutnya akan dilangsungkan pemilihan calon dekan pada hari Rabu 7 Oktober di Kampus Tidung kemudian akan dilanjutkan pengukuhan  Jumat 3 November mendatang. (*)

*Reporter: Kasdar Kasau

Besok, Mapala Teknisi Adakan Donor Darah

Admin by Arnawan Arief on Tuesday, 30 September 2014 | 21:58

Mapala Teknisi Fakultas Teknik (int).
PROFESI-UNM.COM - Hari lahir (Harlah) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Teknisi Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang ke 19 akan mengadakan acara donor darah sebagai rangkaian acara puncak.

Acara tersebut akan dilaksanakan di pelataran FT, Rabu (1/10). "Insya Allah dimulai pukul 8 Wita besok, sudah diumumkan juga ke civitas jauh hari sebelumnya supaya ikut berpartisipasi mendonorkan darahnya,"ujar ketua Mapala Teknisi, Saeful Abrar Sofyan.

Demi terlaksananya kegiatan, Mapala Teknisi melakukan kerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Suka Rela (KSR). "Kami juga telah bekerjasama dengan KSR supaya untuk mendukung terlaksananya kegiatan ini,"tambahnya.

*Reporter: Nurul Irsal Amalia

KSR PMI Gelar Donor Darah

Suasana donor darah di Kampus Tidung FIP UNM, Selasa (30/9).
(Kasdar-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Suka Relawan (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Universitas Negeri Makassar (UNM) gelar donor darah di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Kampus Tidung dan Kampus Gunungsari di Pelataran Gedung Pinisi UNM, Selasa (30/9).

Ketua Umum KSR PMI unit UNM, Ahmad Saiful mengatakan, kegiatan tersebut merupakan Program kerja (Proker) tiap tiga bulan yang dilaksankan ditiap fakultas. "Sebenarnya ini sudah turun temurun dilaksanakan tiap tahun," katanya.

Ia mengungkapkan, selain di FIP mereka juga membuka stan pelataran menara Pinisi UNM. Menurut pengakuannya, untuk hari ini peserta donor darah di FIP mencapai 75 orang dan di Pinisi sendiri hanya 31 orang.

"Darah yang terkumpul nantinya akan langsung diolah oleh KSR unit UNM kemudian stoknya disediakan untuk Sulawesi ," akunya.

Meskipun demikian, pihaknya masih menemui kendala lantaran kurangnya peminat mahasiswa untuk turut berpartisipasi. "Usaha penyadaran banyak seperti sosialisasi di organisasi lain juga seperti Mapala biasanya sering sosialisasi namun masih kurang maksimal," bebernya.

Disisi lain ia yakin, stok darah yang biasanya kurang, pihaknya yakin akan selalu menyediakan bantuan kepada masyarakat. "Karena  data base UKM KSR PMI unit UNM  itu jelas.  Jadi kalau ada kegiatan sudah pasti ada dan kemungkinan bertambah," yakinnya.

Selain kedua sektor UNM di kampus Tidung dan Gunungsari, mereka juga akan mengadakan donor darah di kampus Parangtambung bekerjasama dengan Mahasiswa Pecinta Alam Teknisi (Mapatek) Fakultas Teknik (FT) UNM. (*)

*Reporter: Kasdar Kasau

Lima Faksi Terancam Bubar

(*)
Judul Buku : Insurgent
Penulis : Veronica Roth
Penerjemah : Nur Aini
Penerbit         : Mizan
Tahun terbit : 2012
Tebal buku : 552 halaman


“Saat semua informasi dipercayakan kepadamu, kau harus memutuskan berapa banyak yang perlu diketahui orang-orang.”

Seri kedua dari Trilogi Divergent ini akan mengajak pembaca melewati alur kisah yang cukup menarik. Sang penulis, Veronica Roth nyatanya mampu membuat kisah ini tak tertebak di akhir cerita. Di balik semua pemberontakan dan perebutan kekuasaan yang terjadi setiap waktu, ada konspirasi besar yang mendalangi hadirnya kota, yang menghimpun 5 faksi itu; Abnegation, Erudite, Dauntless, Candor, Amity.

Meskipun serial pertama Divergent telah ditayangkan di layar lebar, namun ceritanya masih berputar pada pemberontakan maupun perlawanan. Jeanine Matthews, pemimpin faksi Erudite, masih hidup dan semakin menggencarkan aksinya untuk memusnahkan lebih banyak Divergent.

Setelah simulasi penyerangannya kepada kaum Abnegation dan kendalinya atas kaum Dauntless digagalkan Tris – Beatrice Prior -, ia semakin tergiur untuk mengembangkan serum simulasi.

Belajar dari kesalahannya, ia melakukan lebih banyak eksperimen kepada Divergent untuk mempelajari bagaimana mereka tak terpengaruh oleh serum yang mampu mengendalikan orang dari jauh itu. Bahkan, dengan informasi yang diperolehnya, ia berhasil membawa Tris menyerahkan diri ke dalam markas Erudite untuk diteliti. Akan tetapi, hasilnya nihil. Tris merupakan Divergent yang cukup kuat – menunjukkan tiga hasil tes sekaligus; Erudite, Abnegation, Dauntless - dibanding Divergent lainnya yang hanya menunjukkan dua karakteristik hasil tes.

Untuk meruntuhkan kekuasaan Jeanine, Four – Tobias Eaton – yang kemudian menjadi salah satu pemimpin Dauntless mau tak mau harus bekerja sama dengan kaum Factionless. Kaum non-faksi itu dipimpin oleh ibunya sendiri, Evelyn, yang telah lama dinyatakan mati. Ia tak pernah menduga, ternyata ada lebih banyak Divergent terhimpun dalam kelompok yang tidak berfaksi tersebut. Bukannya pada kaum Abnegation, sebagaimana yang selama ini diketahuinya.

Buku yang dianugerahi penghargaan Best Fantasy Book di Goodreads Choice Award ini masih tetap dibumbui kisah dua sejoli tokoh utamanya, Tobias dan Tris. Tentang bagaimana mereka memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran atas kotanya yang mulai terpecah belah. Sebagaimana Tris yang mempercayai ada informasi rahasia di balik semua peristiwa yang merusak kota hingga mengorbankan ayah dan ibunya. Dan Tobias yang percaya bahwa menggullingkan Jeanine dari Erudite adalah jalan satu-satunya untuk kembali berdamai dan membalas kematian setengah Abnegation dan banyak Divergent lainnya.

Buku kedua ini akan membawa pembaca pada beberapa setting tempat yang berbeda-beda. Mulai dari perlindungan Tobias dan Tris di lingkungan Amity, terjebak di markas Factionless, beralih pada pelarian ke markas Candor, hingga mereka memutuskan untuk pulang ke Dauntless. Pada akhirnya, penyerbuan besar-besaran dilakukan ke markas Erudite. Cukup menarik, mengingat cerita yang terkesan memiliki ritme cepat masih sempat memberi penggambaran atas beberapa hal yang biasanya terlewatkan.

Sama halnya dengan novel-novel terjemahan lain, lembaran novel ini cukup tebal. Bagi pembaca yang tidak suka membaca novel beratus-ratus halaman, mungkin akan membosankan. Namun, ketika sudah memasuki imajinasi dunia lima faksi tersebut, pembaca akan selalu dibuat penasaran dengan informasi-informasi yang sengaja disembunyikan penulisnya sedari awal. Ada sisi menarik dari cerita yang selalu memaksa pembaca untuk menuntaskan buku setebal 551 halaman ini. Dan pada akhirnya, pembaca akan semakin dibuat penasaran dengan akhir kisah, yang menyimpan lebih banyak tanda tanya.

“Insurgent,” katanya. “Kata benda. Orang yang bertindak sebagai oposisi terhadap otoritas yang mapan, yang tidak selalu dianggap sebagai orang yang suka berperang.”

“Apakah kau perlu memberi nama pada semua hal?” tanya Cara sambil mengusap rambutnya yang pirang pucat untuk merapikan helai-helai yang mencuat. “Kita hanya melakukan sesuatu dan kebetulan saja dalam satu kelompok. Tak perlu nama baru.”

“Kebetulan aku menyukai pengelompokan,” jawab Fernando sambil mengangkat sebelah alisnya yang gelap.

Aku memandang Fernando. Waktu terakhir kali aku menyerbu markas sebuah faksi, aku melakukannya sambil memegang pistol, dan meninggalkan mayat-mayat. Aku ingin kali ini berbeda. “Aku menyukainya,” kataku. “Insurgent. Itu sempurna.” (*)

*Kasdar Kasau

Akta IV Bermasalah, Ini Solusinya

Ijazah Akta IV Universitas Negeri Makassar
(ist)
PROFESI-UNM.COM - Hampir tiap tahunnya, lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) mengalami kendala dalam pendaftaran formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun mengajukan diri sebagai guru bantu maupun guru honorer di sekolah.

Kendala tersebut di antaranya penolakan berkas dalam formasi guru di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini disebabkan karena Ijazah Akta IV yang dikeluarkan UNM dianggap tidak memenuhi syarat, sebab dicantumkan hanya berhak mengajar sesuai bidangnya pada Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat.

Menanggapi masalah tersebut, Pembantu Rektor Bidang Akademik (PR I) UNM, Sofyan Salam angkat bicara. Ia mengimbau kepada alumnus yang mengalami penolakan seperti itu agar melaporkannya kepada pihak universitas. "Kalau ada masalah demikian, silahkan melapor. Selanjutnya akan diberikan surat yang menyatakan diperbolehkan mengajar di jenjang lain dengan ketentuan tetap sesuai bidangnya," jelasnya.

Sofyan juga mengatakan bahwa surat tersebut bersifat legal dan dapat digunakan untuk kelengkapan berkas penerimaan formasi guru. "Sudah ada beberapa lulusan yang terkendala di akta IV diberikan surat untuk membolehkan mereka mengajar di SMP," ungkapnya. (*)

*Reporter: Awal Hidayat

Bule Ramaikan Milad Kolaborasi Bestra dan Talas (foto)

PROFESI-UNM.COM - Biro Kegiatan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (BKM-FBS) Bengkel Sastra (Bestra) Universitas Negeri Makassar (UNM) peringati hari lahir yang ke 19 berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni budaya Talas Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin (29/9) Auditorium Al-Amien Unismuh.

*Foto dan Teks: Rajab





Sudirman Akui Degradasi Lembaga Kemahasiswaan

Mantan Presiden BEM Periode 2012-2013
(int)
PROFESI-UNM.COM - Mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2012-2013, Sudirman, mengakui Lembaga Kemahasiswaan (LK) mengalami degradasi.

Ia mengatakan, LK saat ini mengalami ketidakharmonisan. “Ada yang perlu direnungi bersama, terjadi degradasi dalam tubuh LK akhir-akhir ini. Saat ini memang menjadi tanda tanya bagi kita semua,” ungkapnya saat memberi sambutan pada pelantikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) dan BEM UNM Periode 2014-2015. Senin (29/9) di lantai 2 Menara Pinisi.

Menurutnya, dalam pemilihan ketua BEM kali ini, merupakan wujud dari kurangnya sinergi sembilan mata orange. “ Butuh proses yang panjang dalam pemilihan Presiden BEM kali ini, tetapi sudah cukup membuktikan adanya itikad untuk berdemokrasi,” tambahnya.

Pelantikan yang bertemakan "Penyatuan Gerakan Kolektif Sembilan Mata Orange" ini sempat terjadi kericuhan, karena adanya aliansi mahasiswa yang menolak Ketua BEM terpilih, Zulfikri. Namun tak berselang lama, kericuhan tersebut dapat diredakan oleh pihak keamanan UNM. (*)

*Reporter: Awal Hidayat

Kepala Keamanan UNM Keluhkan Pelantikan BEM-Maperwa

Pelantikan Maperwa dan BEM 2014-2015 UNM di Ballroom
Pinisi, Senin (29/9), yang dilanjutkan setelah kericuhan berhenti.
(Febriawan Djalil - Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Pelantikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM yang berlangsung ricuh di Ballroom Menara Pinisi, Senin (29/9), dikomentari Kepala Keamanan UNM, Dahlan.

Ia mengaku kecewa terhadap pelantikan itu. Namun bukan alasan kericuhannya yang ia permasalahkan, tetapi karena pihak satuan keamanan tak mendapat pemberitahuan dari panitia pelaksana jika ada acara pelantikan di Menara Pinisi.

Sementara pihaknya dipersalahkan dan langsung dipanggil untuk mengamankan saat kericuhan terjadi.

"Mereka tidak menganggap kehadiran satuan keamanan. Mestinya, mereka (panitia, red) bersurat kepada kami bahwa ada pelantikan. Kami hanya dipanggil kalau ada kericuhan," sesal Dahlan. (*)

*Reporter: Ari Maryadi

Presma UNM: "Mereka" Musuh Bersama

Admin by Arnawan Arief on Monday, 29 September 2014 | 23:34

Presiden BEM 2014-2015 UNM, Zulfikri saat pidato sambutan
setelah dilantik di Ballroom Manara Pinisi, Senin (29/9).
(Febriawan Djalil - Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Ricuhnya pelantikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2014-2015 Universitas Negeri Makassar (UNM) membuat Presiden BEM, Zulfikri naik pitam.

Zulfikri tak terima dengan kejadian itu. Ia pun mengimbau dalam pidato sambutannya, agar bagi siapa saja yang menolak pelantikannya untuk dijadikan musuh bersama.

"Untuk teman-teman yang mencoba ingin mengadu domba, mengoyak-ngoyak kedaulatan kita, mengganggu kestabilan jalannya pelantikan, siapapun orangnya, mereka adalah musuh bersama," tegasnya dengan nada berapi-api di depan ratusan mahasiswa UNM yang hadir saat itu.

Ricuhnya pelantikan itu juga ditanggapi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (PR III), Heri Tahir. Namun ia menganggap hal seperti itu memang biasa terjadi dalam dinamika berorganisasi. "Begitu memang dinamika berlembaga, ada yang suka, ada yang tidak suka," tuturnya. (*)

*Reporter: Mentari Jati Pratiwi

Dinilai Cacat, Pelantikan BEM-Maperwa UNM Ricuh

Suasana kericuhan Pelantikan Maperwa dan BEM UNM di Ballroom Menara Pinisi, Senin (29/9).
(Febriawan Djalil - Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Pelantikan fungsionaris Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 2014-2015 UNM di Ballroom Menara Pinisi, Senin (29/9), tidak membuat senang banyak pihak. Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan (LK) dari tiga fakultas yang hadir saat itu menunjukkan penolakannya atas pelantikan tersebut.

Di antaranya yakni LK dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Psikologi (FPsi), dan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS). Sementara LK dari FT memilih tidak hadir.

Teriakan penolakan bermula dari barisan tengah ruangan sesaat sebelum kedua LK tertinggi di UNM itu dilantik. "Stop! Kami menolak pelantikan BEM dan Maperwa hari ini. Pelantikan ini tidak sesuai dengan prosedural," teriak salah seorang mahasiswa jurusan Sejarah, Mujahidin. Kericuhan semakin memanas ketika beberapa mahasiswa mendesak maju dan mencoba mengambil alih jalannya acara pelantikan. Mereka menjatuhkan kursi dan mengambil stand mic kemudian menjatuhkannya.

Sempat terjadi adu mulut antara mereka yang menolak pelantikan dengan fungsionaris BEM-Maperwa UNM. Mereka menganggap pengurus yang akan dilantik saat itu tidak mewakili sembilan mata oranye. "Kami tidak setuju dengan pelantikan BEM-Maperwa UNM ini. Terlihat sangat jelas para pengurus BEM-Maperwa ada pemilihan secara sepihak," ungkap Presiden BEM FIS, Samsul Alam.

Pelantikan menjadi stabil kembali setelah pengurus BEM-Maperwa UNM mengusir mahasiswa-mahasiswa yang mencoba menggagalkan jalannya pelantikan. (*)

*Reporter: Febriawan Djalil